6:16 on Not A Simple Romantism

November 17, 2006 at 7:36 am Leave a comment

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai
sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan yang
hangat yang muncul ketika saya bersender di bahunya
yang bidang. tiga tahun dalam masa kenalan dan
bercumbu, sampai sekarang, dua tahun dalam masa
pernikahan, saya harus mengakui, bahwa saya mulai
merasa lelah dengan semua ini, alasan-2 saya
mencintainya pada waktu dulu, telah berubah menjadi
sesuatu yang melelahkan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2
sensitif dan berperasaan halus, saya merindukan
saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang
menginginkan permen. Dan suami saya bertolak belakang
dari saya, rasa sensitifnya kurang, dan
ketidakmampuannya untuk menciptakan suasana yang
romantis di dalam pernikahan kami telah mematahkan
harapan saya tentang cinta.

Suatu hari, akhirnya saya memutuskan untuk mengatakan
keputusan saya kepadanya, yaitu saya menginginkan
perceraian.
“Mengapa?”, dia bertanya dengan terkejut.
“Saya lelah, terlalu banyak alasan yang ada di dunia
ini”, jawab saya.
Dia terdiam dan termenung sepanjang malam dengan
renungan yang tidak putus-putusnya.
Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang
bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya,
apalagi yang saya bisa harapkan darinya?
Dan akhirnya dia bertanya, ” Apa yang dapat saya
lakukan untuk merubah pikiranmu?”
Seseorang berkata, mengubah kepribadian orang lain
sangatlah sulit dan itu benar, saya pikir, saya mulai
kehilangan kepercayaan bahwa saya bisa mengubah
pribadinya.

Saya menatap dalam-dalam matanya dan menjawab dengan
pelan, ” Saya punya pertanyaan untukmu, jika kamu
dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya
akan merubah pikiran saya. Seandainya katakanlah saya
menyukai setangkai bunga yang ada di tebing gunung dan
kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu
akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?”
Dia berkata, ” Saya akan memberikan jawabannya besok.”

Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya
melihat selembar kertas dengan coret-2an tangannya
dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang
bertuliskan….
“Sayang,
‘Saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi
ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.” Kalimat
pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan
untuk membacanya kembali.
“Kamu hanya bisa mengetik di komputer dan selalu
mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di
depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya
supaya saya bisa menolong untuk memperbaiki
programnya.”
“Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu
keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya
supaya bisa masuk mendobrak rumah , membukakan pintu
untukmu.”
“Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar
di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus
memberikan mata saya untuk mengarahkanmu.”
“Kamu selalu pegal-2 pada waktu “teman baikmu” datang
setiap bulannya, saya harus memberikan tangan saya
untuk memijat kakimu yang pegal.”
“Kamu senang diam didalam rumah, dan saya kuatir kamu
akan jadi “aneh”. Saya harus memberikan mulut saya
untuk menceritakan lelucon-2 dan cerita-2 untuk
menyembuhkan kebosananmu.”
“Kamu selalu menatap komputermu dan itu tidak baik
untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya
sehingga ketika nanti kita tua, saya masih dapat
menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu.”
“Saya akan memegang tanganmu, menelusuri pantai,
menikmati sinar matahari dan pasir yang
indah?menceritakan warna-2 bunga kepadamu yang
bersinar seperti wajah cantikmu?”
Juga sayangku, saya begitu yakin ada banyak orang yang
mencintaimu lebih dari saya mencintaimu?
Saya tidak akan mengambil bunga itu lalu mati?”

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat
tintanya menjadi kabur?dan saya membaca kembali?
“Dan sekarang sayangku? Kamu telah selasai membaca
jawaban saya, jika kamu puas dengan semua jawaban ini,
tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang
berdiri disana dengan susu segar dan roti kesukaanmu?”

Saya segera membuka pintu dan melihat wajahnya yang
penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti.
Oh, saya percaya, tidak ada orang yang pernah
mencintai saya seperti yang dia lakukan dan mengetahui
saya harus melupakan “bunga” itu sendiri?

Itulah hidup, atau boleh dikatakan, cinta, ketika
seseorang dikelilingi dengan cinta, kemudian perasaan
itu mulai berangsur-angsur hilang dan ketika kita
mengabaikan cinta sejati yang berada diantara
kedamaian dan kesepian?

Cinta menunjukkan berbagai macam bentuknya, bahkan
dalam bentuk yang sangat kecil dan dangkal, atau
bahkan tidak punya bentuk, bisa juga dalam bentuk yang
tidak ingin kita ketahui?

Bunga, saat-saat yang romantis hanyalah bentuk awal
dari hubungan.

Entry filed under: General. Tags: .

N.A.G on 7:27 8:19 on Love Doesn’t Need A Reason

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Banner

Blogger Ngalam

Blog Stats

  • 60,594 hits

Archives

Top Clicks

  • None

%d bloggers like this: