astaghfirullahal’adzim

April 7, 2009 at 6:06 am 5 comments

astaghfirullahal’adzim..astaghfirullahal’adzim…
..
*spikless*…astaghfirullahal’adzim…
..
aneh memang..sampai detik inipun aku masih bertanya2..’kenapa?’..’ada apa?’..tapi tidak tahu jawabannya. Ceritanya berawal dari ada si fulan yang satu ruangan dg aku ni. Nah beberapa hari yg lalu..aku mengingatkannya masalah kunci. Karena blio gak teliti akhirnya kunci ketinggalan di ruangan..dan besoknya..gak bisa masuk ruangan krn kunci tertinggal di dalam. Menunggu dari jam 07.15 sampai hampir 08.30 untuk meminjam kunci yg lain.
Akhirnya pas ketemu..tak sampaikanlah kejadian itu..dengan cara yg baik..tidak marah..malah dgn senyum kok. Trus..blio bertanggung jawab untk mengerjakan tugasnya tentunya ya..kebetulan dari dept yg berbeda dgn aku. Hr itu katanya ada seseorang dr sby yg mau ketemu blio. tapi malah blionya pergi dan meninggalkan pesan untuk kami[aku dan temen 1 lagi] dari dept yg beda..[aku dan temen 1 lagi ini juga dr dept yg beda] untuk menerima tamu tersebut. Ternyata kami berdua sependapat…’laa… sudah jauh2 tamunya datang dari sby..mau ketemu kok malah ditinggal pulang..’. Akhirnya keluhan itu kami sampaikan ke temen blio yg satu departemen..entah spt apa penyampaiannya ya..semenjak itu sampai hari ini…si fulan ini tidak pernah memberi salam..setiap masuk dan keluar ruangan. Menyapapun tidak…astaghfirullahal’adzim…
..astaghfirullahal’adzim…astaghfirullahal’adzim….:)
…secara..si fulan ini sudah berpendidikan tinggi..S2..dosen pula…astaghfirullahal’adzim… apakah dengan cara mendiamkan saudaranya adalah cara seorang pendidik untuk menerima kritik dan saran dari orang lain??
Kalau memang ada salah dari kami..apakah tidak ada ‘ruang’ untuk memaafkan??
..astaghfirullahal’adzim..
..

Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya selama tiga hari, yang apabila saling bertemu maka ia berpaling, dan yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai dengan ucapan salam.” (HR. Bukhari Muslim)

“Ada tiga orang yang shalatnya tidak diangkat di atas kepala sejengkal pun, “Seseorang yang mengimami suatu kaum, sedangkan kaum itu membencinya, dan wanita yang diam semalam suntuk sedang suaminya marah ke.padanya, dan dua saudara yang memutus hubungan di antara keduanya.” (HR. Ibnu Majah)

Sesungguhnya suasana benci dan permusuhan adalah suasana yang busuk yang tidak menyenangkan, saat itulah syetan bisa menjual dagangannya dengan laris, seperti berburuk sangka, mencari-cari kesalahan orang lain, ghibah (membicarakan aib orang lain), mengadu domba, berkata bohong dan mencari serta melaknat, sampai pada tingkatan saling membunuh di antara saudara. Ini adalah suatu bahaya yang diperingatkan oleh Rasulullah SAW dan dianggap sebagai sisa kejahiliyahan, Nabi SAW bersabda:

“Janganlah kamu kembali menjadi kafir setelahku, (yaitu) dengan memukul sebagian di antara kamu terhadap leher yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi SAW juga bersabda:

“Mencaci maki seorang Muslim itu suatu kefasikan, dan membunuhnya adalah suatu kekufuran.” (HR. Bukhari-Muslim)

Oleh karena itu memperbaiki hubungan saudara adalah termasuk amal ibadah yang paling mulia. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara dua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (Al Hujuraat: 10)

“Bertaqwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.” (Al Anfal: 1)

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dan orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma ‘ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (An-Nisa’: 114)

Bahkan syari’at telah memberikan bagian tersendiri dari hasil zakat untuk orang-orang yang memiliki hutang dalam memperbaiki hubungan di antara mereka. Untuk membantu mereka agar dapat melakukan kemuliaan ini yang semula dilakukan oleh orang-orang yang berjiwa besar dan memiliki cita-cita yang luhur (tinggi). Maka mereka itulah yang menanggung denda dan hutang para kabilah yang sedang bertengkar. meskipun mereka sendiri tidak memiliki harta secara leluasa.

Karena pentingnya memperbaiki hubungan antara dua fihak, maka Rasulullah SAW memberikan rukhsah (keringanan) terhadap orang yang melakukan perbaikan hubungan untuk tidak selalu dalam kejujuran yang sempurna dalam menentukan sikap pada masing-masing dari dua kelompok (pihak). Sehingga ia bisa (dibolehkan) memindahkan sebagian kata-kata sebagaimana dikatakan, yang telah menyalakan api permusuhan dan tidak memadamkannya, maka tidaklah mengapa dengan sedikit memperindah atau sedikit berdiplomasi (tauriyah). Rasulullah SAW bersabda:

“Bukanlah pembohong orang yang memperbaiki (mendamaikan) antara dua orang, lalu ia berkata dengan baik atau menambahi lebih baik. (HR. Ahmad)

Yang lebih tinggi dari tingkatan salaamatush shadr (bersihnya hati) dari rasa dengki dan permusuhan adalah tingkatan yang diungkapkan dalam hadits shahih sebagai berikut:

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Berarti dengan demikian maka ia juga membenci segala sesuatu yang menimpa atas saudaranya sebagaimana ia membenci sesuatu itu menimpa dirinya. Maka jika ia senang jika dirinya memperoleh kemakmuran hidup maka ia juga menginginkan demikian itu terhadap orang lain. Dan jika ia menginginkan mendapat kemudahan dalam kehidupan berkeluarga(nya), maka ia juga menginginkan hal itu diperoleh orang lain. Dan jika ia ingin anak-anaknya menjadi cerdas, maka ia juga menginginkan hal yang sama untuk orang lain. Dan jika !a menginginkan untuk tidak disakiti baik ketika berada di rumah atau ketika sedang bepergian, maka begitu pula ia menginginkan kepada seluruh manusia. Dengan demikian ia menempatkan saudaranya seperti dirinya dalam segala sesuatu yang ia cintai dan ia benci.

Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur’an & Sunnah
(Malaamihu Al Mujtama’ Al Muslim Alladzi Nasyuduh)
oleh Dr. Yusuf Qardhawi
Cetakan Pertama Januari 1997
Citra Islami Press
Jl. Kol. Sutarto 88 (lama)
Telp.(0271) 632990 Solo 57126

..
astaghfirullahal’adzim…
..
WALLAHU’ALAM BISAWAB……….

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

fiuh..finally sandal spoon cewe motif

5 Comments Add your own

  • 1. sandynata  |  April 7, 2009 at 7:56 am

    temenku ada yg namanya fulan, kasihan dia, nama dia selalu disebut sebut padahal dia kan ndak tau apa apa…

    *kaboor….*

  • 2. farras  |  April 7, 2009 at 8:20 am

    @sandynata: fulan apa wulan mas..:d..

  • 3. arum  |  April 8, 2009 at 3:22 am

    hihihi… malah ngakak baca komennya😀

  • 4. farras  |  April 8, 2009 at 3:47 am

    @arum: emang tu temenku yg satu itu [menunjuk sandynata] rodo ‘aneh’ ..*kaburrr..takut kena pentungan mas sandi..:d*

  • 5. Annisa Mustikasari  |  April 13, 2009 at 4:52 am

    tak pikir ada pegawai baru namanya fulan. hihihihii ternyata oh ternyata ….. capek deee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Subscribe to the comments via RSS Feed


Banner

Blogger Ngalam

Blog Stats

  • 60,605 hits

Archives

Top Clicks

  • None

%d bloggers like this: